09 November 2008

Banjir Mengintai Kota di Indonesia

Di Indonesia, kota-kota yang rawan banjir karena berada di daerah aliran sungai antara lain:
01. DKI Jakarta dengan sungai-sungai, Tunjungan/Kamal, Angke, Pesanggrahan, Sekretaris, Grogol, Krukut, Cideng, Ciliwung, Cipinang, Sunter, Buaran, Jatikramat dan Cakung.
02. Bandung dengan sungai-sungai Citarum, Cinambo, Cikapundung;
03. Bogor dengan sungai-sungai Ciliwung, Cisadane;
04. Bekasi dengan sungai-sungai Bekasi, Cikeas, Citarum;
05. Tanggerang dengan sungai Cisadane
06. Semarang dengan kali Garang/Kali Semarang
07. Surabaya dengan kali Brantas
08. Palembang dengan sungai Musi
09. Padang dengan batang Arau, batang Kuranji, batang Air Dingin
10. Jambi dengan sungai Batanghari
11. Pekanbaru dengan sungai Siak
12. Medan dengan sungai-sungai: Deli, Babura, Kera, Percut dan Belawan
13. Banjarmasin dengan sungai Barito
14. Samarinda dengan sungai Mahakam
15. Palangkaraya dengan sungai Kahayan
16. Makasar dengan sungai Jeneberang
17. Banda Aceh denganKrueng Aceh
18. Pontianak dengan sungai Kapuas
19. Surakarta/Solo dengan bengawan Solo
20. Yogyakarta dengan kali Code
21. Ambon dengan sungai-sungai Batumerah, Batugajah, Waitomu, Wainuru
22. Kendari dengan sungai-sungai Sampana, Wanggo.
23. Denpasar dengan Tukad Bubuh, Tukad Ayung, Tukad Badung
24. Sorong dengan sungai Remu
25. Mataram dengan sungai-sungai Janguk, Ancar, Bernyok, Ening
26. Jayapura dengan sungai-sungai Anafre, Siborgonyi
27. Kupang (dengan sungaiTilong)
28. Palu (dengan sungai Palu)
29. Bengkulu (sungai Bengkulu)
30. Poso (dengan sungai Poso)
31. Gorontalo (dengan sungai-sunga Bone, Tolango)
32. Manado (dengan sungai Tondano, Bailang)
33. Bandar Lampung (dengan sungai-sungai Way Kuripan, Way Lunik, Way Sukamaju).
34. Pangkal Pinang (dengan sungai-sungai Rangkui, Baturusa)
35. Malang (dengan sungai-sungai Brantas, Bango, Amprong)
36. Cilacap (dengan sungai Citandui)
37. Serang (dengan sungai Cibanten)
38. Amurang (dengan sungai Ranoyapo)
39. Probolinggo (dengan sungai Pekalen)
40. Manokwari (dengan sungai Wosi)
41. Bojonegoro (Bengawan Solo)
42. Madiun (Kali Madiun)
Pesatnya pertumbuhan kawasan perkotaan yang telah memicu urbanisasi. Akibatnya jumlah penduduk di kawasan perkotaan meningkat sehingga lahan dataran banjir –yang sebenarnya rawan terhadap genangan dan banjir— terpaksa dibudidayakan menjadi tempat pemukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.
Sementara resiko kemungkinan tergenang banjir tampak kurang mendapat perhatian. Ini setidaknya terlihat pada perkembangan area genangan banjir yang terjadi di wilayah DKI Jakarta. Daerah dataran banjir yang sudah dilindungi bangunan tanggul seperti Setiabudi/Kuningan, Sunter, Kelapa Gading, dan sebagainya, maupun yang telah dilayani dengan sistem polder (berupa waduk dan stasion pompa), seperti di Tomang Barat, Grogol, Setiabudi, Pluit, Rawa Badak dan kompleks perumahan TNI-AL Kodamar, tetap tak luput dari genangan banjir.
Selain karena tingginya intensitas hujan setemp at genangan juga terjadiakibat luapan sungai, akibat limpasan diatas tanggul, akibat tanggul bobol, maupun akibat drainase dan polder yang lumpuh. Ini membuktikan bahwa meskipun masalah banjir dan genangan telah ditangani dengan membangun prasarana dan sarana fisik pengendali banjir dan sistem drainase (structural measures) ternyata resiko terjadinya genangan di lahan yang berupa dataran banjir tetap ada.
Prasarana dan sarana fisik pengendali banjir dan system drainase memang tidak mengubah/menciptakan dataran banjir terbebas dari banjir dan genangan sepenuhnya, karena seluruhnya prasarana dan sarana fisik dibangun berdasarkan besaran banjir tertentu sesuai kelayakannya, dan bukan untuk banjir besar. (LS2LP)
Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi:
LS2LP ( Lembaga Studi Sosial, Lingkungan & Perkotaan )Jln. Situbondo No. 2 Pav. Menteng - Jakarta PusatTelp. : (021) 3157147
Penulis: Lembaga Studi Sosial, Lingkungan & Perkotaan

29 Oktober 2008

Emil Salim Sosialisasikan Model Daerah Aliran Sungai Terpadu

KESRA-- 16 OKTOBER: Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup, Prof Emil Salim diagendakan melakukan sosialisasi model keterpaduan kegiatan antar sektor dalam pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) di Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Termasuk pengelolaan DAS luasan kecil atau pada level Sub-sub DAS, sebagai percontohan dan pembelajaran dalam melaksanakan pengelolaan DAS Cimanuk kedepan, kata Kepala Seksi Kelembagaan dan Kemiteraan Dinas Kehutanan Garut, Endang Rusmana, Rabu(15/10).
Pemkab setempat, akan menghadirkan Ketua Bapeda, Kepala Dinas/Instansi, LSM, Forum DAS, Camat dan Kepala Desa terkait pada pertemuan dengan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan tersebut, yang akan dilakukan dalam waktu dekat ini, katanya.
Sementara itu, dengan dibantu pakar IPB dan Universitas Indonesia serta melibatkan LSM (LP3ES, ESP, FKKM, UNDP), Dirjen RLPS akan melakukan penyusunan rencana pembangunan model keterpaduan pengelolaan DAS luasan kecil sebanyak satu unit. Sedangkan sasaran lokasinya di wilayah Sub-sub DAS Cilayu/Cikandang/Sub DAS Cimanuk Hulu/ DAS Cimanuk Desa Simpang serta Desa Cikandang Kecamatan Cikajang.
Kondisi lahan kritis diluar kawasan ini mencapai 620 ha, terdiri di Desa Simpang 370 ha dan Desa Cikandang 250 ha, dengan curah hujan 1.627 mm/tahun bertipe iklim B, katanya.
Sedangkan penggunaan lahannya mencapai 1.231 ha dengan jenis lahan perkebunan 4.261 ha, hutan 3.218 ha, kebun campuran 1.771 ha, belukar 1.727 ha, tegalan 901 ha, pemukiman 297 ha serta sawah seluas 216 ha. Kondisi jenis tanahnya meliputi alluvial, latosol kelabu, regosol kelabu, andosol, latosol regosol dan grumosal kelabu. Kecamatan Cikajang terletak pada ketinggian diatas 1.000 mdpl dengan luas wilayah 4.615 ha, dengn kemiringan diatas
40 persen, ungkap Endang Rusmana. (mo/hr)
.:: Situs Resmi Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat ::.
http://www.menkokesra.go.id Powered by Joomla! - @copyright Copyright (C) 2005 Open Source MattersG. Aenll errigahtetsd :r e2s9e Orvcetdober, 2008, 21:48

28 Oktober 2008

Blog ini .........................

Blog ini dibuat untuk menampung berbagai artikel, pendapat, atau apa saja yang berhubungan dengan pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Sifatnya bebas, terbuka, aspiratif, atau apa saja sepanjang tidak berbau SARA (suku, agama, ras, dan adat, serta anggota badan ):).
Siapa saja silakan mengirimkan artikelnya ataupun pendapatnya, baik hal-hal mengenai pengelolaan DAS ataupun yang sifatnya tanggapan/perbaikan untuk blog ini.
Seperti diketahui, kalo masalah-masalah ataupun potensi pada DAS merupakan masalah atau potensi yang tidak ada habis-habisnya. Contohnya adalah banjir, kekeringan, tanah longsor, sedimentasi, erosi, penggundulan hutan, konversi lahan, produktivitas lahan, dll, dll, dll......
Ok.... ditunggu partisipasinya

Salam...................